contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

Tampilkan postingan dengan label berita kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita kesehatan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Juli 2010



Hepatitis B adalah salah satu infeksi virus paling sering terjadi di dunia, dan merupakan jenis virus hepatitis yang paling banyak tersebar. Sekitar dua miliar orang di dunia terinfeksi virus ini, 350 juta di antaranya hidup dengan hepatitis B kronis. Padahal, 40 persen orang yang mengidap hepatitis B kronis akan mengalami penyakit hati lanjut.

Virus hepatitis B (VHB) termasuk virus yang "bandel? karena dapat bertahan hingga satu minggu di permukaan pada suhu kamar. Virus ini juga sangat mudah menular-100 kali lebih mudah menular dibandingkan HIV.

VHB hidup dalam darah orang yang telah terinfeksi. Namun jika jumlahnya dalam tubuh sudah sangat banyak, virus ini juga bisa ditemukan pada sperma, cairan vagina dan air liur. Walaupun sangat jarang, virus ini juga bisa ditemukan di air seni, kotoran manusia, keringat, air mata, dan air susu ibu.

Proses penularan hepatitis B bisa terjadi melalui berbagai jalan. Sebagai contoh pada proses persalinan. Jika seorang ibu yang telah terinfeksi melahirkan, kemungkinan besar bayi yang dilahirkannya akan tertular pada saat atau sesaat setelah persalinan.

Hidup bersama orang yang telah terinfeksi VHB juga dapat meningkatkan risiko penularan. Potensi lainnya adalah pada hubungan seks berisiko tinggi atau tidak aman, khususnya bagi mereka yang bergantiganti pasangan atau pria homoseksual.

Mengingat VHB umumnya hidup dalam darah, patut diwaspadai risiko penularan melalui transfusi, jangan sampai Anda terpapar darah atau produk darah yang sudah terinfeksi VHB. Menurut Prof Dr H Ali Sulaiman SpPD-KGEH, peningkatan kasus hepatitis juga terkait maraknya penggunaan jarum suntik secara bergantian, misalnya pada pengguna narkoba suntik (penasun). Media lainnya adalah jarum akupunktur atau alat tato yang tidak disterilisasi atau dibersihkan sebagaimana mestinya dan digunakan berulang.

Sama halnya VHB, virus hepatitis C (VHC) menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau produk darah. Virus ini dapat memperbanyak diri dengan sangat cepat, mencapai 10 triliun virus per hari.

Jalur utama infeksi virus hepatitis C di dunia adalah melalui transfusi darah yang tidak ditapis dan pemakaian jarum suntik yang tidak steril secara bergantian. Sekalipun jarang, hepatitis C bisa juga menular melalui aktivitas seksual dan dari ibu kepada anaknya selama proses persalinan.

Di banyak negara berkembang, di mana darah dan produk darah masih belum diproses dengan prosedur penapisan yang benar, jalur penularan utama adalah melalui penggunaan alat-alat suntik yang tidak steril dan transfusi dengan darah yang tidak ditapis. Mereka yang melakukan praktik sirkumsisi (sunat) tradisional, tato, serta tindik (telinga, hidung, bagian tubuh lain) menggunakan alat yang tidak disterilisasi juga berisiko tertular.

0




Penelitian yang dilakukan terhadap 22.211 anak muda dan orang dewasa muda di AS menunjukkan orang yang memiliki berat badan berlebih atau perut buncit ternyata bisa meningkatkan risiko terkena penyakit migrain.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang lebih mudah terkena migrain, yaitu usia, jenis kelamin dan bagaimana cara tubuh mendistribusikan lemak.

Orang yang berusia 20 tahun sampai 50 tahun dan memiliki lingkar pinggang yang besar cenderung lebih mudah terkena migrain dibandingkan dengan orang yang memiliki lingkar pinggang kecil.

Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah perempuan yang memiliki lemak berlebih di bagian perut memiliki risiko terkena migrain sebesar 37 persen dibandingkan dengan yang tidak sebesar 29 persen.

Sedangkan pada laki-laki usia 20 tahun sampai 55 tahun dengan lemak berlebih di perut sebesar 20 persen dibandingkan dengan yang tidak sebesar 16 persen.

Bagi perempuan ataupun laki-laki yang berusia di atas 55 tahun, total lemak tubuhnya sudah tidak dapat dihubungkan lagi dengan migrain. Karena risiko terkena migrain akan menurun pada perempuan yang berusia lebih dari 55 tahun meskipun memiliki lingkar pinggang yang besar.

"Hasil ini menunjukkan bahwa dengan menghilangkan atau mengurangi lemak yang ada di perut, mungkin bisa memberikan manfaat bagi orang muda yang sering mengalami migrain dan khususnya bagi perempuan," ujar Dr. B Lee Peterlin dari Drexel University College of Medicine di Philadelphia, seperti dikutip dari HealthDay, Senin (26/10/2009).

Peterlin mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki cara distribusi lemak yang berbeda. Setelah mengalami masa puber, perempuan cenderung lebih banyak menyimpan simpanan lemaknya pada daerah pinggul dan paha. Namun, setelah mengalami menopause, perempuan lebih banyak memiliki lemak di daerah perut.

Untuk beberapa penyakit seperti jantung dan diabetes, kelebihan lemak di seputar daerah pinggang akan menjadi faktor risiko yang lebih kuat dari total lemak tubuh.

Tidak ada salahnya jika mulai sekarang mengurangi lemak yang bertumpuk di perut agar terhindar dari risiko terkena migrain.

0




Peneliti menemukan kesamaan antara junk food dan narkoba. Keduanya ternyata sama-sama membuat candu. Orang yang terbiasa makan burger, kentang, sosis atau kue akan sulit menghentikan kebiasaannya itu karena otak sudah memprogram makanan itu sebagai candu.

Selama ini orang mengenal junk food sebagai makanan sampah yang tinggi lemak dan gula tapi sedikit nutrisinya. Tapi ternyata tak hanya itu, saking berbahayanya, seorang ahli saraf, Dr Paul Kenny sampai mengatakan bahwa junk food sama dengan narkoba.

"Sudah terbukti, junk food adalah candu yang membuat seseorang kehilangan kontrol makan," ujar Kenny seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (29/10/2009). Mereka yang mengonsumsi junk food menurut Kenny akan merasakan efek senang, nyaman dan tenang yang bisa berakibat candu jika tidak mengonsumsinya lagi.

Menurut Kenny, ini adalah studi pertama kali yang menghubungkan antara junk food dan obat-obat terlarang atau narkoba. "Kami sudah menemukan banyak bukti nyata yang menunjukkan bahwa junk food sama bahayanya dengan narkoba," tutur Kenny.

Bukti yang ditemukan peneliti adalah kesamaan antara fondasi saraf-saraf di dalam otak yang disebut juga sebagai zat neurobiological. "Setelah diperiksa, ternyata struktur saraf pada otak orang obesitas yang sering mengonsumsi junk food sama dengan orang yang kecanduan obat-obatan atau narkoba," jelas Kenny.

Dr Kenny yang sekarang bekerja di Florida’s Scripps Research Institute pertama kali melakukan penelitiannya di Guy’s Hospital, London dengan menggunakan tikus percobaan. Ia membagi tikus percobaannya ke dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama diberi makanan sehat dalam jumlah banyak. Kelompok kedua diberi makanan junk food tapi dibatasi. Kelompok ketiga diberi makanan junk food tak terbatas, diantaranya kue keju, daging berlemak dan snack cokelat.

Setelah studi berakhir, ternyata tikus di kelompok ketiga menjadi gemuk dengan sangat cepat sedangkan tikus di kelompok pertama dan kedua tidak terlihat ada perbedaan yang signifikan dari berat awalnya.

Peneliti pun kemudian mencoba melakukan pemeriksaan pada otak tikus dari tiga kelompok tersebut. Sebelumnya sebuah stimulasi elektrik diberikan pada bagian otak yang berfungsi mengeluarkan hormon pemberi rasa senang dan nyaman (oxytocin, serotonin, dopamin, feromon, endorfin, dan lainnya).

Dari situ diketahui bahwa ternyata otak tikus di kelompok ketiga membutuhkan stimulasi yang terus menerus untuk mengeluarkan hormon pembawa rasa senang. Sedangkan pada dua tikus di kelompok lainnya, sedikt stimulasi saja bisa membuat hormon itu keluar.

Hipotesis peneliti adalah, untuk mencapai tingkat kesenangan yang sama, tikus yang mengonsumsi junk food ternyata butuh stimulasi yang lebih banyak daripada tikus yang tidak atau jarang makan junk food, dan itu artinya junk food adalah stimulasi yang membawa pada kecanduan. Sama halnya dengan narkoba.

Beberapa bahan khusus yang dipakai untuk memproduksi junk food seperti jenis lemak dan gula tertentu memang didesain untuk membuat konsumen ingin tambah dan tambah lagi. Hal itu yang disinyalir peneliti membuat orang ketagihan. Makan junk food boleh-boleh saja, namun pengendalian diri juga penting.

0
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers